https://journal.blamakassar.com/pusaka/issue/feed PUSAKA 2026-02-11T05:53:07+00:00 Rismawaty Rustam rismawatyr86@gmail.com Open Journal Systems <p>“Pusaka” Jurnal Khazanah Keagamaan terbit dua kali dalam setahun pada bulan Juni dan Desember. Redaksi menerima tulisan mengenai Khazanah Keagamaan, meliputi: naskah klasik, naskah kontemporer, sejarah sosial keagamaan, arkeologi religi, tradisi dan budaya keagamaan, baik berupa artikel hasil penelitian, kajian non penelitian, dan tinjauan buku.</p> https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1622 Ritus Khaul Kyai Banyumas: Seni, Ziarah, dan Konfigurasi Identitas Keagamaan 2026-01-29T02:42:12+00:00 Mukhamad Hamid Samiaji mukhamadhamid@gmail.com Nur Hafidz nurchafidz135@gmail.com Umi Khomsiyatun umi.kh@uinsaizu.ac.id <p><em>The khaul rites in Banyumas are annual religious commemorations that carry spiritual, cultural, and social meanings. This study investigates how the khaul ritual serves as a space for traditional artistic expression and the articulation of local religious identity. Employing a qualitative-descriptive approach with participatory observation, in-depth interviews, and visual documentation, this research reveals that khaul is not merely a death commemoration but a site of intersection between normative Islam, local tradition, and aesthetic expression. Traditional arts such as tembang macapat, hadrah kentongan, and pilgrimage rituals contribute to the reproduction of a distinct religious identity: Banyumas cultural Islam. These rites also become negotiation spaces between religious purification and the preservation of local culture.</em></p> 2026-01-29T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1640 Student Interpretation Bias Towards Arabic Lexical Terms in Gender-Related Verses of the Qur'an from the Perspective of Maudhū'ī Interpretation 2026-01-29T02:42:17+00:00 Majda Qudsiyatul Malikh majdaqudsiatul@gmail.com Dafa Aqila Musyaffa dafaaqilah267@gmail.com <p>This study examines students’ interpretive bias toward Arabic lexical terms in Qur’anic gender-related verses through the perspective of thematic exegesis (tafsīr maudhū‘ī). The main issue lies in the tendency to reproduce key terms such as jilbāb (Q. al-Aḥzāb [33]:59), ḍaraba (Q. al-Nisā’ [4]:34), and qawwāmūna (Q. al-Nisā’ [4]:34) from classical exegesis with patriarchal nuances, often without contextual critique. The research employed a qualitative combined design, integrating field research and content analysis. The approaches used were thematic exegesis and Arabic lexical semantics. Textual data were collected through a reading and note-taking method from primary sources, including the Qur’an, classical tafsirs (al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, Ibn Kathīr), and contemporary interpretations (al-Manār, al-Miṣbāḥ, Fazlur Rahman, Amina Wadud, and Quraish Shihab). Field data were obtained through in-depth interviews with 12 students from different study programs (Islamic Family Law, Qur’anic Studies, Arabic Language Education, Arabic Literature, and Islamic Education), selected using stratified purposive sampling. Data validation was conducted through source and method triangulation as well as peer discussion. The analysis followed Miles and Huberman’s model, consisting of condensation, display, and conclusion.</p> <p>The findings reveal that lexical meanings in gender-related verses show diverse interpretations across classical and contemporary exegesis. Classical interpretations emphasize patriarchal aspects, while contemporary interpretations highlight contextual and egalitarian dimensions. Field research indicates that most students reproduce classical patriarchal readings, although a small number have attempted to present more egalitarian and contextual interpretations. These findings underline the urgency of strengthening critical exegesis literacy and gender awareness in Qur’anic studies, so that Qur’anic interpretation can be more just, humanistic, and aligned with the universal values of justice in Islam.</p> 2026-01-29T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1632 EKSPLORASI ETIKA BISNIS ISLAM DALAM PARIWISATA HALAL DI PANTAI BIRA, SULAWESI SELATAN 2026-01-29T02:42:20+00:00 Rukmi Widyawati whied_suryasegara@yahoo.com Jamaluddin Majid jamaluddin.majid@uinalauddin.ac.id Syaharuddin Syaharuddin syaharuddin@uinalauddin.ac.id Abu Muslim abu.muslim@brin.go.id <p>Penelitian ini mengeksplorasi penerapan etika bisnis Islam di destinasi wisata Pantai Bira, Sulawesi Selatan, Indonesia, dari perspektif prinsip amanah (dapat dipercaya). Tujuannya adalah untuk mengkaji bagaimana prinsip amanah dipraktikkan oleh para pelaku pariwisata lokal serta mengidentifikasi tantangan utama dalam mengembangkan model pariwisata halal yang berkelanjutan. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat praktik etis seperti keterbukaan harga dan penyediaan sarana ibadah, pelanggaran terhadap prinsip amanah masih marak, seperti pungutan liar, ketidakjelasan harga, dan lemahnya tata kelola. Artikel ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai Islam dalam pelatihan, keterlibatan tokoh agama, serta tata kelola yang terstruktur sebagai langkah strategis menuju pengembangan pariwisata yang etis dan berkelanjutan.</p> 2026-01-29T02:08:37+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1644 Kontestasi antara Pesantren Salaf-Tradisional dan Salafi-Wahabi dalam Platform YouTube 2026-01-29T02:42:25+00:00 Muh Rizaldi muhrizaldi959@gmail.com Siti Dea Ananda sitideaananda19@gamil.com <p>&nbsp;Perseteruan antara kelompok salaf-tradisional dan salafi-wahabi yang selama ini dipahami cenderung berkutat pada isu purifikatif ternyata telah merambah ke persoalan perebutan eksistensi lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam platform YouTube. Kedua kubu ini satu sama lain tampak saling adu wacana untuk menunjukkan eksistensi lembaga masing-masing. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam beberapa akun YouTube yang diasumsikan memiliki afiliasi ke pesantren salaf-tradisional dan pesantren salafi-wahabi yang secara aktif berkontestasi. Terdapat tiga isu utama yang dijawab dalam studi ini yakni menyangkut bentuk-bentuk kontestasi, faktor yang melatarbelakangi dan dampaknya. Dalam membedah hal tersebut, studi ini menggunakan analisis konten dan teori kontestasi Antje Wiener sebagai pisau analisis. Studi ini menyimpulkan bahwa, kontestasi oleh mereka dilakukan dengan saling melayangkan ragam narasi konfrontatif yang berorientasi pada tiga bentuk yakni konten ajaran, tokoh agama dan kasus-kasus asusila. Terjadinya kontestasi ini tidak terlepas dari polemik fase sebelumnya yang pada gilirannya diperuncing untuk memperebutkan otoritas lembaga pendidikan (pesantren) sebagai medium sentral mempertahankan ajaran masing-masing. Dengan sifat terbuka media sosial, fenomena ini berdampak secara signifikan terhadap konstruksi citra (positif-negatif) pondok pesantren dalam platform YouTube.</p> 2026-01-29T02:11:07+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1637 Living Islam Masyarakat Makassar dalam Naskah “Kakalumanyangan” 2026-01-29T02:42:30+00:00 Muhammad Alwi HS muhalwihs2@gmail.com <p>Artikel ini mengkaji tentang naskah “<em>Kakalumanyangan” </em>sebagai salah satu naskah kuno tentang tradisi keagamaan yang tersebar di masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan, khususnya melihat fenomena living Islam dalam naskah tersebut. Artikel ini merupakan kajian pustaka dengan menggunakan tiga unsur (1) teks keagamaan mengacu pada naskah “<em>Kakalumanyangan</em>”, (2) tradisi keagamaan mengacu pada tradisi dalam naskah “<em>Kakalumanyangan</em>”; dan (3) sejarah tradisi (<em>turats</em>) akan ditelusuri dengan mengacu pada berbagai rujukan naskah “<em>Kakalumanyangan</em>”, yakni Al-Qur’an, Hadis dan kitab-kitab ulama. Dalam mendeskripsikan sekaligus menganalisis ketiga unsur tersebut, artikel ini berfokus pada dua bagian penting, yakni sisi transmisi dan transformasi teks keagamaan, dan sisi performatif dan informatifnya. Dari sini, artikel ini menyimpulkan bahwa banyaknya sekaligus dalamnya bentuk tradisi yang diperlihatkan pada teks-teks keagamaan dalam naskah “<em>Kakalumanyangan</em>” yang dapat menjadi wilayah kajian living Islam, sehingga perlu dijaga dan dikembangkan, mulai berniat mencapai kekayaan, ketika mencari, menjalaninya, maupun menjaga diri ketika mendapatkan kekayaan, yang semuanya memperlihatkan transmisi dan transformasi, baik kepada Al-Qur’an, Hadis, Kitab Tafsir, dan literatur muslim lainnya yang akrab di kalangan umat Islam, termasuk di Indonesia dan spesifik masyarakat Makassar. Lebih jauh, transmisi dan transformasi tersebut memperlihatkan sisi performatif dan informatif teks, baik secara langsung maupun tidak.</p> 2026-01-29T02:14:08+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1628 The Transformation of Muhammadiyah and Javanese Islam Relations: From Puritanism to Cultural Da'wah in Kotagede 2026-01-29T02:42:33+00:00 Muhammad Syamsuddin muhammadsyamsuddin488@gmail.com <p>Abstrak</p> <p>Artikel ini mengkaji transformasi strategi dakwah Muhammadiyah di Kotagede dari pendekatan puritan menuju dakwah kultural berbasis moderasi. Muhammadiyah yang awalnya menolak berbagai praktik budaya lokal seperti nyadran, slametan, dan ziarah kubur, kini mulai mengakomodasinya dalam kerangka dakwah yang lebih inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma interpretatif, dan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah kultural Muhammadiyah diwujudkan melalui strategi negosiasi simbolik, pemanfaatan seni lokal seperti ketoprak Islami dan barzanji reformis, serta digitalisasi dakwah melalui platform seperti Instagram, YouTube, dan website resmi. Data lapangan menunjukkan peningkatan signifikan dalam penerimaan sosial, partisipasi masyarakat, dan penurunan konflik horizontal pasca implementasi dakwah kultural. Temuan ini juga menunjukkan adanya gradasi internal dalam tubuh Muhammadiyah Kotagede antara kelompok puritan dan akomodatif, yang secara konstruktif mendorong dinamika dakwah yang demokratis dan adaptif. Artikel ini menegaskan bahwa dakwah kultural berbasis moderasi dapat menjadi model efektif untuk membangun toleransi aktif, memperkuat harmoni sosial, dan memperluas jangkauan Islam wasathiyah di era digital dan masyarakat multikultural. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model dakwah Islam yang kontekstual, partisipatif, dan berakar pada kearifan lokal.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>dakwah kultural, islam moderat, budaya lokal, muhammadiyah, kotagede</p> <p><em>Abstract</em></p> <p><em>This article examines the transformation of Muhammadiyah's da'wah strategy in Kotagede from a puritanical approach to a cultural da'wah based on moderation. Muhammadiyah, which initially rejected various local cultural practices such as nyadran, slametan, and grave visits, has now begun to accommodate them within a more inclusive da'wah framework. This study employs a descriptive qualitative approach with an interpretive paradigm, utilizing data collection techniques such as in-depth interviews, participatory observation, and documentary analysis. The research findings indicate that Muhammadiyah's cultural da'wah is realized through symbolic negotiation strategies, the utilization of local arts such as Islamic ketoprak and reformist barzanji, and the digitalization of da'wah through platforms like Instagram, YouTube, and the official website. Field data indicate a significant increase in social acceptance, community participation, and a decrease in horizontal conflicts following the implementation of cultural da'wah. These findings also reveal internal gradations within Muhammadiyah Kotagede between puritanical and accommodative groups, which constructively drive democratic and adaptive da'wah dynamics. This article asserts that cultural da'wah based on moderation can serve as an effective model for fostering active tolerance, strengthening social harmony, and expanding the reach of moderate Islam in the digital age and multicultural society. This research is expected to contribute to the development of a contextual, participatory, and locally rooted model of Islamic da'wah.</em></p> <p><strong>Keywords: </strong><em>cultural da'wah, moderate Islam, local culture, Muhammadiyah, Kotagede</em></p> 2026-01-29T02:17:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1633 Memaknai Integritas Pribadi Pejabat Pembuat Komitmen dalam Pengelolaan Proyek Konstruksi SBSN: Studi Fenomenologi 2026-01-29T02:42:38+00:00 Moh Syaifudin mohammad.syaifudin@gmail.com <p>Integritas pribadi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) memegang peran sentral dalam menjamin akuntabilitas pengelolaan proyek konstruksi yang didanai melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana PPK memaknai integritas dalam menjalankan tanggung jawabnya serta bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam praktik pengadaan barang/jasa pemerintah. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap PPK yang menangani proyek SBSN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga sebagai amanah moral dan spiritual yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Temuan ini mengindikasikan perlunya integrasi pelatihan etika dan spiritualitas dalam pembinaan PPK, khususnya di lembaga pemerintah berbasis keagamaan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap penguatan sistem integritas dalam pengelolaan proyek pemerintah berbasis syariah.</p> 2026-01-29T02:20:13+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1625 Kebebasan Manusia dalam Takdir Tuhan: Komparasi Paham Qadariyah Dan Calvinisme serta Implikasinya dalam Historisitas 2026-01-29T02:42:40+00:00 Fiqi Restu Subekti 24205011005@student.uin-suka.ac.id Mutiullah Mutiullah mutiullah@uin-suka.ac.id Aswar Aswar 24205011008@student.uin-suka.ac.id Muhammad Rizky Shorfana 24205011003@student.uin-suka.ac.id <p>Penelitian ini membahas konsep kebebasan manusia dalam kerangka takdir Tuhan melalui komparasi paham Qadariyah dalam tradisi Islam dan Calvinisme dalam tradisi Kristen Reformasi. Permasalahan pokoknya adalah bagaimana kedua aliran teologis tersebut memandang kebebasan manusia, kedaulatan Tuhan, dan tanggung jawab moral individu, serta perbedaan implikasinya dalam konteks historis. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami perbedaan kerangka teologis tersebut yang memengaruhi pemahaman etika dan tanggung jawab moral dalam tradisi keagamaan, sehingga kajian komparatif atas kedua pandangan ini menjadi penting. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh dari literatur klasik dan kontemporer tentang doktrin Qadariyah, Calvinisme, dan konsep takdir. Analisis komparatif dilakukan dengan menelaah teks-teks utama dan konteks historis perkembangan kedua paham. Hasil utama menunjukkan bahwa Qadariyah menegaskan kebebasan penuh manusia dalam memilih perbuatan dan menanggung konsekuensi moralnya, sedangkan Calvinisme menekankan kedaulatan mutlak Tuhan melalui doktrin predestinasi ganda. Meskipun terdapat perbedaan prinsip, keduanya sama-sama berupaya menjelaskan keadilan Tuhan terkait keberadaan dosa dan tujuan moral manusia. Implikasi historis temuan ini tercermin dari bagaimana Qadariyah membentuk diskursus teologis awal dalam Islam dan Calvinisme mempengaruhi pandangan Reformasi Protestan tentang keselamatan dan etika sosial. Studi ini menambah wawasan tentang hubungan kebebasan dan takdir dengan pendekatan lintas-tradisi, serta pengaruh keduanya terhadap perkembangan pemikiran teologi dan praktik sosial di masing-masing konteks sejarah.</p> 2026-01-29T02:22:42+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1648 Efektivitas Pemanfaatan Video Conference Cloud dalam Pembelajaran Daring di ITEB Bina Adinata 2026-02-11T05:53:07+00:00 Andi Nurul Faizah serdos1stmikbinaadinata@gmail.com Adi Candra chandrakirana862@gmail.com <p>Penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu, “bagaimana efektivitas pemanfaatan <em>video conference cloud</em> dalam pembelajaran daring di ITEB Bina Adinata?”. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji sejauh mana penerapan teknologi <em>video conference</em> berbasis cloud dalam kegiatan perkuliahan daring. Fokus utamanya adalah memperoleh pemahaman mengenai Tingkat efektivitas pemanfaatan platform seperti Zoom dan Google Meet dalam menunjang proses pembelajaran daring di ITEB Bina Adinata. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif melalui angket tertutup yang menggunakan skala Likert. Responden penelitian terdiri dari 30 mahasiswa aktif yang telah mengikuti perkuliahan daring selama satu semester penuh. Instrumennya disusun berdasarkan tiga indikator utama, yaitu kemudahan akses terhadap teknologi, interaktivitas dalam proses belajar, serta pencapaian tujuan pembelajaran. Data dianalisis secara statistik pada masing-masing indikator, kemudian hasilnya diklasifikasikan ke dalam lima kategori efektivitas. Dari hasil analisis diperoleh skor rata-rata keseluruhan sebesar 88,8% yang termasuk dalam kategori sangat efektif. Dari beberapa indikator terlihat persentasenya secara rinci yakni: kemudahan akses aplikasi 92,6%, minimnya kesulitan teknis 91,4%, keleluasaan interaksi 90,0%, pemanfaatan fitur 89,4%, motivasi belajar 89,4%, tujuan pembelajaran 87,4%, keaktifan belajar 87,4%, jaringan internet 86,0%, pemahaman materi kuliah 85,4%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan <em>Zoom </em>dan<em> Google Meet</em> terbukti sangat membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran daring di Institut Teknologi dan Bisnis Bina Adinata.</p> 2026-01-29T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://journal.blamakassar.com/pusaka/article/view/1650 The " The Living Qur’an as a Social Practice: The Urgency of Contextualizing Revelation in Contemporary Life " 2026-01-29T02:42:51+00:00 Muhammad Rezky Pratama rezky.lahida@gmail.com <p><em>This study explores the concept of the Living Qur’an as a social practice that emphasizes the urgency of contextualizing revelation within contemporary life. The central problem addressed is how divine revelation—transcendental and normative in nature—can be interpreted and actualized meaningfully amidst the pluralistic, complex, and ever-evolving dynamics of modern society. In the face of modern challenges such as the secularization of values, moral decline, social inequality, and ecological crises, the Qur’an is often perceived as a static text, despite its inherently dynamic and universal values. Thus, this research responds to the need for a hermeneutical approach to the Qur’an that is not only textual but also contextual and praxis-oriented.&nbsp;The study examines previous works on the Living Qur’an, most of which frame the Qur’an as a source of cultural inspiration or local tradition—such as Muhammad Ridha’s (2021) study on Qur’anic traditions in Aceh and Rosyid Munawar’s (2024) analysis of sima’an practices within tarbiyah communities. However, these approaches have yet to delve deeply into the hermeneutical and transformational praxis dimensions of the Qur’an within social structures. Therefore, this study offers a new perspective by employing the philosophical hermeneutics of Paul Ricoeur, particularly his concepts of mimesis (prefiguration, configuration, refiguration) and narrative identity. This framework enables an understanding of revelation not merely as normative instruction, but as a living narrative shaped by, and shaping, human social experience.</em></p> <p><em>This is a qualitative study using a phenomenological-hermeneutical approach. Data were collected through participant observation, case studies in urban Muslim communities in Jakarta and Yogyakarta, and in-depth interviews with Islamic preachers engaged in social action. The data were analyzed using Ricoeur’s narrative hermeneutic stages: identifying social context (mimesis I), analyzing narrative structure and textual meaning (mimesis II), and assessing the impact of Qur’anic praxis on social identity transformation (mimesis III).</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>The findings indicate that the Living Qur’an is not only manifested in formal religious activities such as Qur’anic recitation or study circles but is more profoundly reflected in tangible actions such as environmental advocacy, social justice movements, solidarity with marginalized groups, and justice-based economic practices. The Qur’an comes to life as an ethical narrative practiced by individuals and communities who consciously interpret its verses in light of their socio-historical context. This reinforces the argument that social context is integral to both understanding and actualizing revelation.</em></p> <p><em>The study concludes that the Living Qur’an as a social practice underscores the necessity of reading the Qur’an beyond the semantic level, advancing toward an ethical and transformational dimension. Through the lens of Paul Ricoeur’s hermeneutics, revelation is not only to be understood but to be lived—becoming a formative force for identity and a catalyst for meaningful social change in the contemporary world</em></p> 2026-01-29T02:38:33+00:00 ##submission.copyrightStatement##